Faith ñ hope

2008/08/16

Pudarnya Pesona Cleopatra (bag.I)

by Habiburrahman El Shirazy



Dengan panjang lebar ibu menjelaskan, sebenarnya sejak ada dalan kandungan aku telah
dijodohkan dengan Raihana yang tak pernah kukenal. Ibunya Raihana adalah teman karib
ibu waktu nyantri di pesantren Mangkuyudan Solo dulu kata ibu.
Kami pernah berjanji, jika dikarunia anak berlainan jenis akan besanan untuk memperteguh
tali persaudaraan. Karena itu ibu mohon keikhlasanmu , ucap beliau dengan nada mengiba.
Dalam pergulatan jiwa yang sulit berhari-hari, akhirnya aku pasrah. Aku menuruti keinginan
ibu. Aku tak mau mengecewakan ibu. Aku ingin menjadi mentari pagi dihatinya, meskipun
untuk itu aku harus mengorbankan diriku.
Dengan hati pahit kuserahkan semuanya bulat-bulat pada ibu. Meskipun sesungguhnya
dalam hatiku timbul kecemasan-kecemasan yang datang begitu saja dan tidak tahu alasannya.
Yang jelas aku sudah punya kriteria dan impian tersendiri untuk calon istriku. Aku tidak bisa
berbuat apa-apa berhadapan dengan air mata ibu yang amat kucintai. Saat khitbah (lamaran)
sekilas kutatap wajah Raihana, benar kata Aida adikku, ia memang baby face dan anggun.
Namun garis-garis kecantikan yang kuinginkan tak kutemukan sama sekali. Adikku, tante
Lia mengakui Raihana cantik, cantiknya alami, bisa jadi bintang iklan Lux lho, asli ! kata
tante Lia. Tapi penilaianku lain, mungkin karena aku begitu hanyut dengan gadis-gadis Mesir
titisan Cleopatra, yang tinggi semampai, wajahnya putih jelita, dengan hidung melengkung
indah, mata bulat bening khas arab, dan bibir yang merah. Di hari-hari menjelang
pernikahanku, aku berusaha menumbuhkan bibit-bibit cintaku untuk calon istriku, tetapi
usahaku selalu sia-sia.
Aku ingin memberontak pada ibuku, tetapi wajah teduhnya meluluhkanku. Hari pernikahan
datang. Duduk dipelaminan bagai mayat hidup, hati hampa tanpa cinta, Pestapun meriah
dengan empat group rebana. Lantunan shalawat Nabipun terasa menusuk-nusuk hati. Kulihat
Raihana tersenyum manis, tetapi hatiku terasa teriris-iris dan jiwaku meronta. Satu-satunya
harapanku adalah mendapat berkah dari Allah SWT atas baktiku pada ibuku yang kucintai.
Rabbighfir li wa liwalidayya!
Layaknya pengantin baru, kupaksakan untuk mesra tapi bukan cinta, hanya sekedar karena
aku seorang manusia yang terbiasa membaca ayat-ayatNya.
Raihana tersenyum mengembang, hatiku menangisi kebohonganku dan kepura-puraanku.
Tepat dua bulan Raihana kubawa ke kontrakan dipinggir kota Malang.
Mulailah kehidupan hampa. Aku tak menemukan adanya gairah. Betapa susah hidup
berkeluarga tanpa cinta. Makan, minum, tidur, dan shalat bersama dengan makhluk yang
bernama Raihana, istriku, tapi Masya Allah bibit cintaku belum juga tumbuh. Suaranya yang
lembut terasa hambar, wajahnya yang teduh tetap terasa asing. Memasuki bulan keempat,
rasa muak hidup bersama Raihana mulai kurasakan, rasa ini muncul begitu saja. Aku
mencoba membuang jauh-jauh rasa tidak baik ini, apalagi pada istri sendiri yang seharusnya
kusayang dan kucintai. Sikapku pada Raihana mulai lain. Aku lebih banyak diam, acuh tak
acuh, agak sinis, dan tidur pun lebih banyak di ruang tamu atau ruang kerja.
Aku merasa hidupku ada lah sia-sia, belajar di luar negeri sia-sia, pernikahanku sia-sia,
keberadaanku sia-sia.
Tidak hanya aku yang tersiksa, Raihanapun merasakan hal yang sama, karena ia orang yang
berpendidikan, maka diapun tanya, tetapi kujawab tidak apa-apa koq mbak, mungkin aku
belum dewasa, mungkin masih harus belajar berumah tangga Ada kekagetan yang
kutangkap diwajah Raihana ketika kupanggil mbak, kenapa mas memanggilku mbak, aku
kan istrimu, apa mas sudah tidak mencintaiku tanyanya dengan guratan wajah yang sedih.
wallahu alam jawabku sekenanya. Dengan mata berkaca-kaca Raihana diam menunduk,
tak lama kemudian dia terisak-isak sambil memeluk kakiku, Kalau mas tidak mencintaiku,
tidak menerimaku sebagai istri kenapa mas ucapkan akad nikah?
Kalau dalam tingkahku melayani mas masih ada yang kurang berkenan, kenapa mas tidak
bilang dan menegurnya, kenapa mas diam saja, aku harus bersikap bagaimana untuk
membahagiakan mas, kumohon bukalah sedikit hatimu untuk menjadi ruang bagi
pengabdianku, bagi menyempurnakan ibadahku didunia ini. Raihana mengiba penuh pasrah.
Aku menangis menitikan air mata buka karena Raihana tetapi karena kepatunganku. Hari
terus berjalan, tetapi komunikasi kami tidak berjalan. Kami hidup seperti orang asing tetapi
Raihana tetap melayaniku menyiapkan segalanya untukku.
Suatu sore aku pulang mengajar dan kehujanan, sampai dirumah habis maghrib, bibirku
pucat, perutku belum kemasukkan apa-apa kecuali segelas kopi buatan Raihana tadi pagi,
Memang aku berangkat pagi karena ada janji dengan teman. Raihana memandangiku dengan
khawatir. Mas tidak apa-apa tanyanya dengan perasaan kuatir. Mas mandi dengan air
panas saja, aku sedang menggodoknya, lima menit lagi mendidih lanjutnya. Aku melepas
semua pakaian yang basah. Mas airnya sudah siap kata Raihana. Aku tak bicara sepatah
katapun, aku langsung ke kamar mandi, aku lupa membawa handuk, tetapi Raihana telah
berdiri didepan pintu membawa handuk. Mas aku buatkan wedang jahe Aku diam saja.
Aku merasa mulas dan mual dalam perutku tak bisa kutahan.
Dengan cepat aku berlari ke kamar mandi dan Raihana mengejarku dan memijit-mijit pundak
dan tengkukku seperti yang dilakukan ibu. Mas masuk angin. Biasanya kalau masuk angin
diobati pakai apa, pakai balsam, minyak putih, atau jamu? Tanya Raihana sambil
menuntunku ke kamar. Mas jangan diam saja dong, aku kan tidak tahu apa yang harus
kulakukan untuk membantu Mas. Biasanya dikerokin jawabku lirih. Kalau begitu kaos
mas dilepas ya, biar Hana kerokin sahut Raihana sambil tangannya melepas kaosku. Aku
seperti anak kecil yang dimanja ibunya. Raihana dengan sabar mengerokin punggungku
dengan sentuhan tangannya yang halus. Setelah selesai dikerokin, Raihana membawakanku
semangkok bubur kacang hijau. Setelah itu aku merebahkan diri di tempat tidur. Kulihat
Raihana duduk di kursi tak jauh dari tempat tidur sambil menghafal Al Quran dengan
khusyu. Aku kembali sedih dan ingin menangis, Raihana manis tapi tak semanis gadis-gadis
mesir titisan Cleopatra.
Dalam tidur aku bermimpi bertemu dengan Cleopatra, ia mengundangku untuk makan malam
di istananya. Aku punya keponakan namanya Mona Zaki, nanti akan aku perkenalkan
denganmu kata Ratu Cleopatra. Dia memintaku untuk mencarikannya seorang pangeran,
aku melihatmu cocok dan berniat memperkenalkannya denganmu. Aku mempersiapkan
segalanya. Tepat pukul 07.00 aku datang ke istana, kulihat Mona Zaki dengan pakaian
pengantinnya, cantik sekali. Sang ratu mempersilakan aku duduk di kursi yang berhias
berlian.
Aku melangkah maju, belum sempat duduk, tiba-tiba Mas, bangun, sudah jam setengah
empat, mas belum sholat Isya kata Raihana membangunkanku. Aku terbangun dengan
perasaan kecewa. Maafkan aku Mas, membuat Mas kurang suka, tetapi Mas belum sholat
Isya lirih Hana sambil melepas mukenanya, mungkin dia baru selesai sholat malam.
Meskipun cuman mimpi tapi itu indah sekali, tapi sayang terputus. Aku jadi semakin tidak
suka sama dia, dialah pemutus harapanku dan mimpi-mimpiku. Tapi apakah dia bersalah,
bukankah dia berbuat baik membangunkanku untuk sholat Isya.
Selanjutnya aku merasa sulit hidup bersama Raihana, aku tidak tahu dari mana sulitnya. Rasa
tidak suka semakin menjadi-jadi. Aku benar-benar terpenjara dalam suasana konyol. Aku
belum bisa menyukai Raihana. Aku sendiri belum pernah jatuh cinta, entah kenapa bisa
dijajah pesona gadis-gadis titisan Cleopatra.
Mas, nanti sore ada acara qiqah di rumah Yu Imah. Semua keluarga akan datang termasuk
ibundamu. Kita diundang juga. Yuk, kita datang bareng, tidak enak kalau kita yang dielukelukan
keluarga tidak datang Suara lembut Raihana menyadarkan pengembaraanku pada
Jaman Ibnu Hazm. Pelan-pelan ia letakkan nampan yang berisi onde-onde kesukaanku dan
segelas wedang jahe.
Tangannya yang halus agak gemetar. Aku dingin-dingin saja. Maaf..maaf jika mengganggu
Mas, maafkan Hana, lirihnya, lalu perlahan-lahan beranjak meninggalkan aku di ruang
kerja. Mbak! Eh maaf, maksudku D..Din..Dinda Hana!, panggilku dengan suara parau
tercekak dalam tenggorokan. Ya Mas! sahut Hana langsung menghentikan langkahnya dan
pelan-pelan menghadapkan dirinya padaku. Ia berusaha untuk tersenyum, agaknya ia bahagia
dipanggil dinda. Matanya sedikit berbinar. Te..terima kasih Di..dinda, kita berangkat
bareng kesana, habis sholat dhuhur, insya Allah, ucapku sambil menatap wajah Hana
dengan senyum yang kupaksakan.
Raihana menatapku dengan wajah sangat cerah, ada secercah senyum bersinar dibibirnya.
Terima kasih Mas, Ibu kita pasti senang, mau pakai baju yang mana Mas, biar dinda siapkan?
Atau biar dinda saja yang memilihkan ya?.
Hana begitu bahagia.
Perempuan berjilbab ini memang luar biasa, Ia tetap sabar mencurahkan bakti meskipun aku
dingin dan acuh tak acuh padanya selama ini. Aku belum pernah melihatnya memasang
wajah masam atau tidak suka padaku. Kalau wajah sedihnya ya. Tapi wajah tidak sukanya
belum pernah. Bah, lelaki macam apa aku ini, kutukku pada diriku sendiri. Aku memakimaki
diriku sendiri atas sikap dinginku selama ini., Tapi, setetes embun cinta yang
kuharapkan membasahi hatiku tak juga turun. Kecantikan aura titisan Cleopatra itu?
Bagaimana aku mengusirnya. Aku merasa menjadi orang yang paling membenci diriku
sendiri di dunia ini.

2008/08/11

KEMBALI FITRAH

KEBAIKAN ADALAH AKHLAK YANG BAIK, DAN DOSA ADALAH APA YANG MELINTAS DALAM BENAKMU DAN KAMU MEMBENCINYA BILA ORANG LAIN MENGETAHUINYA

================

Ana sering mengatakan "tak punya hati nurani" utamanya terhadap pada pelaku kezhaliman dan para pendosa lainnya yang sering mengorbankan kepentingan orang lain untuk mementingkan kepuasan dirinya sendiri. Tapi kinilah saatnya menilai dengan jujur, seperti apakah nurani ana sebenarnya. Apakah sudah memiliki hati yang bersih -qalbun salim- yang bersih dari perbuatan sia-sia, bebas dari segala syubhat dan bebas dari belenggu syahwat? Seberapa kuatkah ana tanpa khilaf.

Sesungguhnya ana tahu inti dari hati yang mati adalah terputusnya diri ini dari Allah. Dan lebih luka lagi hati ini apabila ana tidak mengenal-Nya, sehingga ingin mengenalnya saja tidak... terimalah maaf ana yaa Rabb...

(Ditulis saat hati ini kembali ingat pada-Nya)

================

2008/07/27

Ternyata asyik banget chatting menggunakan Mig33

si-mig33: assalamualaikum:)

theaam: wsalam:)
si-mig33: akhi, apakbr?
theaam: alhmdlh baik, secerah hari ini;)

Dunia sekarang ternyata sempit. Bisa jalan-jalan kemana saja kita mau. Asyik banget chatting menggunakan Mig33 bisa menambah info, ilmu, teman dan pengalaman, bahkan mungkin nambah lawan(unt pluder sama kicker, xixixi:p)


Ingin tahu semua tentang mig33 klik disini.



BIRAYANG SITE

2008/07/12

Refleksi Sebuah Kisah Pohon Apel

Ikhwah fillah...
Pada saat ana membuka komputer dan membuka folder pribadi, myLibrary, tersimpan banyak artikel, bahan bacaan, buku dan lain-lain. Dan kebanyakan yang ana punya tentang Islam. Semuanya ana dapat dari teman-teman dan hasil browsing dari internet. Ana klik file kisah-kisah, penasaran kemudian ana coba membuka judul “Kisah Pohon Apel”, padahal melihat judulnya saja ana kurang begitu tertarik karena ana kurang suka membaca dongeng, apalagi dongeng anak-anak sebelum tidur.
Tetapi kali ini ana penasaran ingin membacanya, sekedar menambah wawasan mungkin ada kandungan hikmah yang bisa diambil. Setelah ana baca dan Subhanallah…
Ternyata kisah tersebut sangat menyentuh untuk dijadikan sebuah renungan. Sehingga dapat merubah sikap ana.
Sekedar berbagi pada akhi dan ukhti maka kisah tersebut ana edit karena menggunakan bahasa Melayu. Mari kita simak kisah tersebut dengan rasa ikhlas untuk membiasakan diri selalu besikap baik.
***
Dahulu kala terdapat seorang anak lelaki dan sebatang pohon apel yang amat besar. Anak lelaki itu begitu gemar bermain-main di sekitar pohon apel tersebut Setiap hari dia memanjat pohon tersebut, memetik serta memakan apel dengan sepuas hatinya, dan adakalanya dia beristirahat lalu terlelap di batang pohon apel tersebut. Anak lelaki tersebut begitu menyayangi tempat bermainnya. Begitu juga pohon apel itu juga menyukai anak tersebut.
Masa berlalu...
Anak lelaki itu sudah besar dan menjadi seorang remaja. Dia tidak lagi menghabiskan waktunya setiap hari bermain di sekitar pohon apel tersebut. Namun suatu hari dia datang kepada pohon apel tersebut dengan wajah yang sedih.
"Marilah bermain-main di sekitarku", ajak pohon apel itu.
" Aku bukan lagi anak-anak, aku tidak lagi gemar bermain dengan engkau", jawab remaja itu.
"Aku tidak perlu permainan tapi yang aku perlukan uang untuk membeli mainan", tambah remaja itu dengan nada yang sedih. Lalu pohon apel itu berkata:
“Kalau begitu petiklah apel-apel yang ada padaku. Kemudian jual lah untuk mendapatkan uang. Dengan itu kau dapat membeli mainan yang kau inginkan".
   Remaja itu dengan gembiranya memetik semua apel dipohon itu dan pergi dari situ. Dia tidak kembali lagi selepas itu. Pohon apel itu merasa sedih.
Masa berlalu...
Suatu hari, remaja itu kembali. Dia semakin dewasa. Pohon apel itu merasa gembira.
"Marilah bermain-main di sekitarku", ajak pohon apel itu.
"Aku tidak ada waktu untuk bermain. Aku terpaksa bekerja untuk mendapatkan uang. Aku ingin membina rumah sebagai tempat perlindungan untuk keluargaku. Bolehkahkau menolongku?" Tanya anak itu."
“Maafkan aku, aku tidak mempunyai rumah. Tetapi kau boleh memotong dahan-dahanku yang besar ini dan kau buatlah rumah darinya". Pohon apel itu memberikan tawaran.
Lalu, remaja yang semakin dewasa itu memotong semua dahan pohon apel itu dan pergi dengan gembiranya. Pohon apel itu pun turut gembira tetapi kemudian ia merasa sedih karena remaja itu tidak kembali lagi setelah itu.
Suatu hari yang panas, seorang lelaki datang menemui pohon apel itu. Sebenarnya dia adalah anak lelaki yang pernah bermain-main dengan pohon apel itu. Dia telah matang dan dewasa.
"Marilah bermain-main di sekitarku", ajak pohon apel itu
"Maafkan aku, tetapi aku bukan lagi anak lelaki yang suka bermain-main di sekitarmu. Aku sudah dewasa. Aku mempunyai cita-cita untuk belayar. Malangnya, aku tidak mempunyai perahu. Apakah kau bisa menolongku?", Tanya lelaki itu.
"Aku tidak mempunyai perahu untuk diberikan kepada kau. Tetapi kau boleh memotong batang pohon ini untuk dijadikan perahu. Kau akan dapat belayar dengan gembira," kata pohon apel itu.
Lelaki itu merasa senang sekali dan menebang batang pohon apel itu. Kemudian dia pergi dari situ dengan gembiranya dan tidak kembali lagi setelah itu.
Namun pada suatu hari, ada seorang lelaki yang sudah tua datang menuju pohon apel itu. Dia adalah anak lelaki yang pernah bermain di sekitar pohon apel itu.
"Maafkan aku. Aku tidak ada apa-apa lagi untuk diberikan kepada engkau. Aku sudah memberikan buah ku untuk kau jual, dahanku untuk kau buat rumah, batangku untuk kau buat perahu. Aku hanya ada tunggul dengan akar yang hampir mati". Kata pohon apel itu dengan nada pilu.
Aku tidak mau apelmu karena aku sudah tidak ada gigi untuk memakannya, aku tidak mau dahanmu karena aku sudah tua untuk memotongnya, aku tidak mau batang pohonmu karena aku tidak belayar lagi, aku merasa lelah dan ingin istirahat," jawab lelaki tua itu.
Jika begitu, istirahatlah di batangku," kata pohon apel itu.
Lalu lelaki tua itu duduk beristirahat di batang pohon apel itu dan beristirahat. Mereka berdua menangis karena begitu gembiranya.
 
Sebenarnya, pohon apel yang dimaksudkan dalam kisah itu adalah kedua ibu bapak kita. Ketika kita masih kecil, kita suka bermain dengan mereka. Ketika kita meningkat remaja, kita perlukan bantuan mereka untuk meneruskan hidup. Kita tinggalkan mereka dan hanya kembali meminta pertolongan apabila kita didalam kesusahan. Namun, mereka tetap menolong kita asalkan kita dapat bahagia dan gembira, bahkan mereka rela “melakukan apa saja” demi anaknya. Kita mungkin berfikir bahwa anak lelaki pada kisah itu bersikap kejam terhadap pohon apel itu, tetapi fikirkanlah, itu hakikat sebenarnya bagaimana kebanyakan anak-anak masa kini melayani ibu bapak mereka. Jangan sampai kita durhaka hanya karena kata-kata “ah” atau “cih”. Hargailah jasa mereka. Taati dan hormatilah mereka. Coba kita renungkan sekali lagi.
Allahummafirlana wa liwalidina…
Warhamhum kamaa rabbayana sighara…
Amin…

2008/06/14

2008/05/23

Tersenyumlah

Loading...

| |||| |||||| ||||||||||||||||||

==o00o====o00o====΅oOW
‟„΅/΅/΅…„„…΅\΅\oOW
‟„΅\΅\,(@`@)،/΅/
‟„΅„\……`(―)΄……/oOW

Bedakan antara senyum dan ketawa...

2008/05/22

CUMA 144 RIBU ORANG KRISTEN YANG MASUK SORGA

Pernahkah anda mendengar propaganda misionaris yang mengatakan :

“barang siapa percaya akan Yesus kristus, maka ia akan masuk sorga ”

Yang dimaksud ialah, barang siapa mengakui Yesus mati disalib untuk menebus dosa manusia dan mengakui Yesus sebagai Tuhan maka ia akan masuk sorga, dan barang siapa mau dibaptis untuk menjadi pengikut Yesus maka ia akan terselamatkan dan akan masuk dalam kerajaan sorga.

Padahal Yesus sendiri, sama sekali tidak pernah disalib dan belum mati, baik dari dalil-dalil yang ada dalam Al-Qur’an maupun dalam Alkitab, dan Yesus juga sama sekali tidak pernah mengaku sebagai Tuhan, dia justru mengaku sebagai manusia utusan Allah SWT, dalil-dalil tersebut berpuluh-puluh jumlahnya baik dalam Al-Qur’an maupun dalam Alkitab.

Tetapi dalam pembahasan ini, kita tidak akan menyinggung tentang dogma-dogma tersebut, hanya mengkaji bahwa dalam Alkitab disebutkan pengikut Yesus yang akan masuk sorga hanyalah 144.000 orang saja, itupun hanya dari orang-orang Israel saja, selain dari orang-orang Israel tentu Yesus tidak mau bertanggung jawab. Ini menurut Alkitab.

Melihat angka hanya 144.000 yang akan masuk sorga dari pengikut Yesus tentu memberikan tanda tanya besar, bagaimana dengan orang-orang Kristen yang jumlahnya dua milyar lebih di dunia saat ini. Apakah mereka akan masuk sorga? seperti keyakinan mereka?

Menurut Alkitab, yaitu kitab yang mereka bawa-bawa tiap minggu ke gereja, tidak ada satupun pintu sorga yang akan menerima mereka, 12 pintu sorga yang dikisahkan dalam Alkitab hanya diperuntukkan bagi 12 suku Israel, karena pintu-pintu itu telah bertuliskan nama-nama 12 suku Israel, jadi bagaimana nasib pengikut-pengikut Yesus dari luar suku Israel yang tentu saja berharap masuk surga?

Al-Qur’an mengisahkan Nabi Isa as pernah berkata kepada kaumnya bani Israel :

"Hai bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu” QS. 61:6

Seruan nabi Isa as ini menegaskan bahwa nabi Isa as diutus Allah SWT hanyalah untuk orang Israel, nabi Isa as tidak diutus untuk seluruh manusia.

Ternyata pernyataan Al-Qur’an tersebut didukung oleh kenyataan sejarah nabi Isa as (Yesus) yang hanya memiliki umat dari orang-orang Israel saja, pengikut Yesus tak ada satupun yang berasal dari orang-orang non Israel. Bukan saja sejarah yang mendukung pernyataan Al-Qur’an tersebut, tetapi banyak sekali ayat-ayat dalam Bible/Alkitab yang juga mendukung pernyataan Al-Qur’an tersebut :

Jawab Yesus: "Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel." Injil Matius 15:24

Bahkan Alkitab mengisahkan Yesus hanya mau mendo’akan orang-orang Israel saja, orang-orang diluar Israel Yesus tidak mau mendo’akan :

Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan Kepada-Ku, sebab mereka adalah milik-Mu Injil Yohanes 17:9

yang dimaksud ‘mereka’ dalam ayat tersebut ada-lah orang-orang Bani Israel, dan yang dimaksud Yesus tidak berdo’a untuk dunia adalah Yesus tidak mau mendo’akan orang-orang non Israel, tentu saja Yesus hanya memimpin dan mengembalakan domba-domba yang tersesat dari kalangan bani Israel.

Sebelum Yesus dilahirkan oleh Maria (Islam : Maryam), telah ada nubuat yang menyatakan bahwa Maria akan melahirkan seorang anak yang kelak akan menyelamatkan orang-orang Israel.

“Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka." Injil Matius 1:21

yang dimaksud umatnya adalah orang-orang Israel saja, bukan orang Cina, bukan orang Amerika, bukan orang Indonesia yang akan diselamatkan oleh Yesus. Yesus memang hanya untuk Israel.

HANYA 144.000 YANG MASUK SYURGA

Al-Qur’an menyebutkan bahwa Israel terdiri dari dua belas suku :

Dan mereka Kami bagi menjadi dua belas suku yang masing-masingnya berjumlah besar QS. 7:160

Dalam Alkitab juga disebutkanbahwa Israel terbagi menjadi 12 suku :

Itulah semuanya suku Israel, dua belas jumlahnya… Kejadian 49:28

Dalam Alkitab disebutkan Yesus memilih dua belas murid yang diambil dari dua belas suku Israel untuk membantu dakwanya :

Inilah nama kedua belas rasul itu: Pertama Simon yang disebut Petrus dan Andreas saudaranya, dan Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, Filipus dan Bartolomeus, Tomas dan Matius pemungut cukai, Yakobus anak Alfeus, dan Tadeus, Simon orang Zelot dan Yudas Iskariot yang mengkhianati Dia. Injil Matius 10:2-4

Yesus dan murid-muridnya berdakwah hanya untuk dua belas suku Israel ini saja, Yesus melarang murid-muridnya untuk berdakwa kepada orang-orang selain bangsa Israel :

Ke duabelas murid itu diutus oleh Yesus dan Ia berpesan kepada mereka: "Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israil. Injil Matius 10:5-6

Bahkan ada nubuat, kelak setelah hari kiamat yaitu hari penghakiman, dua belas murid Yesus tersebut ikut bersama-sama Yesus menghakimi dua belas suku Israel :

.. sesungguhnya pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel. Injil Matius 19:28

Jadi Yesus hanya menghakimi orang-orang dari Israel saja, Yesus tidak bertanggung jawab terhadap orang-orang non Israel di seluruh dunia ini. (baca: "Majalah Tempo" 3 Juli 2005 hal 58)
http://www.geocities.com/cicak_mdn/menu.html
selengkapnya